Rabu, 11 Januari 2017

Kebodohan Cinta Part4

Cinta monyet

Cinta monyet… yaa mungkin setiap orang pernah merasakannya.tak terkecuali diriku.Kristine,si jangkung itu entah apa yang dilihat dari diriku.Aku pernah di ceritakan Maurice ketika ia main ke rumahnya si Kristine.Ia bilang Kristine memiliki 2 boneka sepasang,dengan raja dan ratu dia lalu beranggapan raja nya adalah diriku,dan ratu adalah dirinya.mendengar hal itu akupun hanya tersenyum.karena setelah aku meyelesaikan sekolah selama 1 tahun.aku harus pindah.ke sekolah yang waktu itu aku tak bisa dapatkan karena penuh.dari situlah aku putus hubungan dengannya.
            Padahal banyak juga kenangan yang telah tertanam sampai sekarang pun aku tak lupa aku sering bermain dengan mereka ber-3 bersama dengan Kristine,Maurice,dan olit.
            Kami sering berduduk-duduk santai di halaman sekolah yang luas.di tanami pohon jambu merah.aku memahat nama ku dan ke-3 teman-teman ku.dan yang paling special adalah ketika aku memahat nama ku dengan nama Kristine dengan ditengah-tengah belambangkan cinta.hahaa..dasar anak kecil.yang tak tahu apa-apa tentang hidup,tentang cinta.mereka hanyalah korban film tayangan yang sering mereka tonton.
            Dan aku juga ingat saat aku ulang tahun,aku membawa sisa kue dari rumah untuk dimakan kami ber-3.tetapi dengan tangan jahilnya si Kristine melemparkan kue itu kemuka ku.begitu pun dengan yang lainnya.dan membuat muka ku semua menjadi penuh dengan kue.dan karena hal itu pun aku jadi dimarahi oleh Ibu guru di kelas.karena terkena baju kerahku.(Torheit der Liebe,Bagian4,Cinta Monyet)

Kebodohan Cinta Part 3

Masuk Sekolah Dasar
Akhirnya aku lulus pula dari Taman Kanak-Kanak yang meninggalkan kecerian,kepolosan bak,seputih salju.Ibu ku dan aku berjalan untuk mendaftarkan ku disekolah dasar yang dekat dari rumah.agar Ibu tidak perlu repot-repot mengantar ku kesekolah dengan jauh.akan tetapi ketika sampai di depan gerbang ternyata sekolah tersebut telah penuh sesak oleh para pendaftar yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negri dengan waktu belajar pagi hari.yaa di sini ada 4 sekolah dasar Negri yang 2 diantaranya belajar di pagi hari,dan 2 sisanya di siang hari.
            Disini apabila bisa memasukan anak nya kesekolah pagi dianggap anaknya akan cerdas,bagus pendiriannya,dan akan bagus pula untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya.disana terlihat jelas dan banyak tetangga ku,bahkan teman-teman TK ku telah berhasil mendapatkan sekolah pagi.yaa padahal sehari sebelumnya Ibu telah berjanjian dengan salah satu tetangga ku .tapi ia malah meninggalkan ku dan Ibu.dia tersenyum bangga telah menyekolahkan anaknya di sekolah pagi.
            Dengan senyuman itu,Ia lemparkan ke wajah kami yang baru datang.tapi sebenarnya justru sebuah kebohongan untuk kami,kedustaan,ketidaksetiaan,ingkar janji.Akhirnya,dengan menunduk Aku pulang dengan Ibu.
            Lalu terdengar suara motor GX tahun 2000-an mengklaksoni kami.ternyata itu Ayah,Ayah langsung mengajak kami ke jalan Centex Raya.disana Aku akhirnya mendapatkan sekolah dengan waktu jam pagi.
            Akan tetapi,jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh.belum lagi aku harus menyebrangi jalan raya.yang saat itu sangat berbahaya bagi anak sekecil ku.sekolah itu ialah.
            Aku disini diajar oleh bu Ayu.dan Aku mengenal beberapa nama.seperti Maurice,Kristine,Olit,Kiky,Pipit,Andi,Azizah,Ajeng.Awal semester aku duduk dengan Olit.Ia berasal dari keluarga yang sederhana.Ayahnya menjual soto ayam di kantin.soto ayam yang kadang dibantu oleh si Olit kala ayahnya sibuk tuk melayani pelanggan.
            Aku duduk di garda depan dengan Olit,yaa ibu selalu menyuruhku tuk duduk di garda depan.Ibu percaya orang yang duduk di garda depan biasanya lebih mudah menangkap pelajaran.di belakang ku ada Maurice dan Kristine.si Jangkung Kristine yaa aku pun memiliki kenangan dengannya.
            Disini raja dari segala mata pelajaran Ialah Azizah.Ia menghitung bagaikan jenius Einsten,Ibu mengajarkan ku menghitung pertambahan dengan menyimpannya dimulut untuk puluhan.akan tetapi,Ia menyimpannya diotak.waw.. awe some untuk seukuran anak yang baru belajar pertambahan.mungkin terdengar biasa,namun bagi ku merupakan suatu keajaiban  (Torheit der Liebe,Bagian 3,Masuk Sekolah Dasar)

Kebodohan Cinta Part 2



  Taman Kanak-Kanak

Aku disekolahkan oleh Ibu di salah satu Taman Kanak-Kanak dekat rumah ku.
            Disinilah aku mendapatkan prestasi ku.mengucap syair,yaa syair.disini Aku berlatih keras mulai dari lomba tingkat se ke-camatan Ciracas.Aku mendapat Juara 1,Lalu lanjut tingkat Wali Kota Aku meraih Juara 2.
            Disini lah aku merasakan indahnya menjadi anak-anak.Aku mendapatkan teman banyak.ada Shita yang terkenal tomboy,ada Zafir terkenal dengan cadelnya,ada Hanif yang terkenal dengan nakalnya,ada juga Nindy si cantik yang berhati lembut namun bergigi ompong.tapi Nindy tak membuat hatiku berdebar-debar,hanya satu orang yang membuat hati ku berdebar-debar setiap ku melihat matanya.yaa terdengar aneh memang anak sekecil itu sudah bisa merasakan bagaimana berdebar-debar.
            Mungkin yang dewasa berkata ah..mustahil… tapi itu nyatanya yang kurasakan.dia bernama Wina.Wina sebenarnya tak cantik,ia pula tak baik hatinya namun entah kenapa selalu ku berdebar-debar dibuat oleh nya.acap kali ku masuk kekelas.
             Disini Aku bersahabat dekat dengan Zafir karena Ibu bersahabat pula dengan Ibunda Zafir.Ia tinggal di dekat lingkungan Taman Kanak-Kanak.Ia juga berasal dari keluarga yang sederhana.
            Aku punya kenangan yang sampai saat ini tak bisa kulupakan bersama Nindy.suatu hari aku ada pelajaran olahraga.Aku terjatuh terluka.Bu Anin guru ku segera membawa ku ke kantor.Aku di bersihkan luka oleh nya.lalu Aku pulang dan tiba-tiba Nindy datang menghampiri ku yang sudah berjalan duluan di depannya.
            Sambil terengah-engah dia memberikan sesuatu.kertas origami yang berbentuk burung,entah apa maksudnya.Ia mengatakan lain kali hati-hati ya.Ia memberikan sambil menunjukan senyuman manisnya.dan aku pun menyusul dia di depan sambil berkata “Untuk apa ini?”.tanya ku kepadanya seraya mengerutkan dahi.
            Dia bilang “Ini pertanda keberuntungan”.Nindy menjawab.dengan masih keheranan aku mengangguk saja.dan Akhirnya kami pulang bersama .Namun,origami nya hanya bertahan 2 hari yaa..origami itu hilang entah kemana.            
(Torheit der Liebe,Bagian 2,Taman Kanak-Kanak)

Kotak Musik Part1

                     


Prolog

Aku Sholah,yaa mungkin nama yang membosankan untuk kalian yang hidup di zaman modern 2000-an.
Tapi Aku bersyukur dengan nama yang kupunya.Karena sesungguhnya bukan namaku lah yang hanya di syukuri,tetapi hidup ku juga harus disyukuri.karena Aku salah satu bayi yang masih di beri penghidupan.Aku lahir Prematur,Aku pula harus di incubator di rumah sakit.karena katanya Aku termasuk bayi biru.
Aku hidup dari Ayah sederhana,dan Ibu pula yang sederhana.Ayah ku berasal dari Jakarta.asli Betawi tulen.Aku lahir di pinggiran Jakarta yang tak lagi ramah terhadap pribumi aslinya.Aku berasal pula dari keluarga yang terpojokkan dari lingkungan,dari tetangga.
Yaa…itulah hidup.hanya melihat dari tampak luar seseorang,dari baju yang kita kenakan,dari pangkat yang kita kenakan,dan kemewahan emas yang kita umbar.semua hanya menilai sedemikian.ironis di negri ku yang terkenal gotong royong dan gemah ripah loh jinawi,tapi sekarang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi yang pesat.dan lebih memilih berkehidupan seperti itu.Tapi aku masih percaya masih ada orang yang mempertahankan tradisi nenek moyang Bangsa yang beradab ini.Bangsa yang dikenal kaya raya tak hanya Sumber Daya Alaminya,tetapi kaya akan Tradisi dan Budaya tak lupa gotong-royong dan gemah ripah loh jinawi.
Aku tinggal di pinggiran Jakarta yang masih ada unsur kampung.akan tetapi,juga ada hirup pikuk kota yang mendampingi nya disini.
Ciracas..yaa Ciracas tempat kelahiran ku.daerah pinggiran yang mungkin hanya sebagian orang tahu daerah ini.tapi di sini lah cerita itu terjadi cerita cinta,mimpi,&kehidupan untuk kami orang pinggiran terjadi.
                                                                               (Torheit der Liebe,Bagian 1,Prolog)