Masuk Sekolah
Dasar
Akhirnya aku lulus pula dari Taman
Kanak-Kanak yang meninggalkan kecerian,kepolosan bak,seputih salju.Ibu ku dan aku
berjalan untuk mendaftarkan ku disekolah dasar yang dekat dari rumah.agar Ibu
tidak perlu repot-repot mengantar ku kesekolah dengan jauh.akan tetapi ketika
sampai di depan gerbang ternyata sekolah tersebut telah penuh sesak oleh para
pendaftar yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negri dengan waktu
belajar pagi hari.yaa di sini ada 4 sekolah dasar Negri yang 2 diantaranya
belajar di pagi hari,dan 2 sisanya di siang hari.
Disini
apabila bisa memasukan anak nya kesekolah pagi dianggap anaknya akan
cerdas,bagus pendiriannya,dan akan bagus pula untuk melanjutkan ke tingkat
selanjutnya.disana terlihat jelas dan banyak tetangga ku,bahkan teman-teman TK
ku telah berhasil mendapatkan sekolah pagi.yaa padahal sehari sebelumnya Ibu
telah berjanjian dengan salah satu tetangga ku .tapi ia malah meninggalkan ku
dan Ibu.dia tersenyum bangga telah menyekolahkan anaknya di sekolah pagi.
Dengan
senyuman itu,Ia lemparkan ke wajah kami yang baru datang.tapi sebenarnya justru
sebuah kebohongan untuk kami,kedustaan,ketidaksetiaan,ingkar
janji.Akhirnya,dengan menunduk Aku pulang dengan Ibu.
Lalu
terdengar suara motor GX tahun 2000-an mengklaksoni kami.ternyata itu Ayah,Ayah
langsung mengajak kami ke jalan Centex Raya.disana Aku akhirnya mendapatkan
sekolah dengan waktu jam pagi.
Akan
tetapi,jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh.belum lagi aku harus
menyebrangi jalan raya.yang saat itu sangat berbahaya bagi anak sekecil ku.sekolah
itu ialah.
Aku
disini diajar oleh bu Ayu.dan Aku mengenal beberapa nama.seperti
Maurice,Kristine,Olit,Kiky,Pipit,Andi,Azizah,Ajeng.Awal semester aku duduk
dengan Olit.Ia berasal dari keluarga yang sederhana.Ayahnya menjual soto ayam
di kantin.soto ayam yang kadang dibantu oleh si Olit kala ayahnya sibuk tuk
melayani pelanggan.
Aku
duduk di garda depan dengan Olit,yaa ibu selalu menyuruhku tuk duduk di garda
depan.Ibu percaya orang yang duduk di garda depan biasanya lebih mudah
menangkap pelajaran.di belakang ku ada Maurice dan Kristine.si Jangkung Kristine
yaa aku pun memiliki kenangan dengannya.
Disini raja dari segala mata
pelajaran Ialah Azizah.Ia menghitung bagaikan jenius Einsten,Ibu mengajarkan ku
menghitung pertambahan dengan menyimpannya dimulut untuk puluhan.akan tetapi,Ia
menyimpannya diotak.waw.. awe some untuk seukuran anak yang baru belajar
pertambahan.mungkin terdengar biasa,namun bagi ku merupakan suatu keajaiban (Torheit der Liebe,Bagian 3,Masuk Sekolah Dasar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar