Rabu, 11 Januari 2017

Kebodohan Cinta Part 3

Masuk Sekolah Dasar
Akhirnya aku lulus pula dari Taman Kanak-Kanak yang meninggalkan kecerian,kepolosan bak,seputih salju.Ibu ku dan aku berjalan untuk mendaftarkan ku disekolah dasar yang dekat dari rumah.agar Ibu tidak perlu repot-repot mengantar ku kesekolah dengan jauh.akan tetapi ketika sampai di depan gerbang ternyata sekolah tersebut telah penuh sesak oleh para pendaftar yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negri dengan waktu belajar pagi hari.yaa di sini ada 4 sekolah dasar Negri yang 2 diantaranya belajar di pagi hari,dan 2 sisanya di siang hari.
            Disini apabila bisa memasukan anak nya kesekolah pagi dianggap anaknya akan cerdas,bagus pendiriannya,dan akan bagus pula untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya.disana terlihat jelas dan banyak tetangga ku,bahkan teman-teman TK ku telah berhasil mendapatkan sekolah pagi.yaa padahal sehari sebelumnya Ibu telah berjanjian dengan salah satu tetangga ku .tapi ia malah meninggalkan ku dan Ibu.dia tersenyum bangga telah menyekolahkan anaknya di sekolah pagi.
            Dengan senyuman itu,Ia lemparkan ke wajah kami yang baru datang.tapi sebenarnya justru sebuah kebohongan untuk kami,kedustaan,ketidaksetiaan,ingkar janji.Akhirnya,dengan menunduk Aku pulang dengan Ibu.
            Lalu terdengar suara motor GX tahun 2000-an mengklaksoni kami.ternyata itu Ayah,Ayah langsung mengajak kami ke jalan Centex Raya.disana Aku akhirnya mendapatkan sekolah dengan waktu jam pagi.
            Akan tetapi,jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh.belum lagi aku harus menyebrangi jalan raya.yang saat itu sangat berbahaya bagi anak sekecil ku.sekolah itu ialah.
            Aku disini diajar oleh bu Ayu.dan Aku mengenal beberapa nama.seperti Maurice,Kristine,Olit,Kiky,Pipit,Andi,Azizah,Ajeng.Awal semester aku duduk dengan Olit.Ia berasal dari keluarga yang sederhana.Ayahnya menjual soto ayam di kantin.soto ayam yang kadang dibantu oleh si Olit kala ayahnya sibuk tuk melayani pelanggan.
            Aku duduk di garda depan dengan Olit,yaa ibu selalu menyuruhku tuk duduk di garda depan.Ibu percaya orang yang duduk di garda depan biasanya lebih mudah menangkap pelajaran.di belakang ku ada Maurice dan Kristine.si Jangkung Kristine yaa aku pun memiliki kenangan dengannya.
            Disini raja dari segala mata pelajaran Ialah Azizah.Ia menghitung bagaikan jenius Einsten,Ibu mengajarkan ku menghitung pertambahan dengan menyimpannya dimulut untuk puluhan.akan tetapi,Ia menyimpannya diotak.waw.. awe some untuk seukuran anak yang baru belajar pertambahan.mungkin terdengar biasa,namun bagi ku merupakan suatu keajaiban  (Torheit der Liebe,Bagian 3,Masuk Sekolah Dasar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar