Prolog
Aku Sholah,yaa mungkin nama yang
membosankan untuk kalian yang hidup di zaman modern 2000-an.
Tapi Aku bersyukur dengan
nama yang kupunya.Karena sesungguhnya bukan namaku lah yang hanya di
syukuri,tetapi hidup ku juga harus disyukuri.karena Aku salah satu bayi yang
masih di beri penghidupan.Aku lahir Prematur,Aku pula harus di incubator di
rumah sakit.karena katanya Aku termasuk bayi biru.
Aku hidup dari Ayah
sederhana,dan Ibu pula yang sederhana.Ayah ku berasal dari Jakarta.asli Betawi
tulen.Aku lahir di pinggiran Jakarta yang tak lagi ramah terhadap pribumi
aslinya.Aku berasal pula dari keluarga yang terpojokkan dari lingkungan,dari
tetangga.
Yaa…itulah hidup.hanya
melihat dari tampak luar seseorang,dari baju yang kita kenakan,dari pangkat
yang kita kenakan,dan kemewahan emas yang kita umbar.semua hanya menilai
sedemikian.ironis di negri ku yang terkenal gotong royong dan gemah ripah loh
jinawi,tapi sekarang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi yang pesat.dan lebih
memilih berkehidupan seperti itu.Tapi aku masih percaya masih ada orang yang
mempertahankan tradisi nenek moyang Bangsa yang beradab ini.Bangsa yang dikenal
kaya raya tak hanya Sumber Daya Alaminya,tetapi kaya akan Tradisi dan Budaya
tak lupa gotong-royong dan gemah ripah loh jinawi.
Aku tinggal di
pinggiran Jakarta yang masih ada unsur kampung.akan tetapi,juga ada hirup pikuk
kota yang mendampingi nya disini.
Ciracas..yaa Ciracas
tempat kelahiran ku.daerah pinggiran yang mungkin hanya sebagian orang tahu
daerah ini.tapi di sini lah cerita itu terjadi cerita cinta,mimpi,&kehidupan
untuk kami orang pinggiran terjadi.
(Torheit der Liebe,Bagian 1,Prolog)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar